Coba bayangkan, ribuan tahun lalu, tempat yang sekarang jadi spot diving penuh air ternyata dulunya kering kerontang dan bisa dilewati manusia dan hewan dengan santai. Bukan cerita fiksi, ini fakta yang diungkap para peneliti lewat berbagai gua bawah air di dunia.
Gua-gua ini dulunya berada di daratan. Manusia purba dan hewan-hewan zaman es memanfaatkannya untuk tinggal, berburu, sampai mencari air tawar. Baru belakangan, ketika es di kutub mencair dan permukaan laut naik drastis, gua-gua ini tenggelam dan berubah jadi “kapsul waktu” bawah air yang menyimpan jejak kehidupan purba selama belasan ribu tahun.
Penasaran gua mana saja yang menyimpan cerita semacam ini? Yuk simak.
1. Gua Cosquer, Prancis: Galeri Seni Purba di Dasar Laut
Gua Cosquer di Prancis tenggelam sekitar 10.000 tahun lalu. Sebelum itu, permukaan laut jauh lebih rendah, sekitar 120 meter di bawah level sekarang, dan garis pantainya pun masih beberapa kilometer lebih jauh. Kondisi inilah yang bikin gua ini dulunya layak huni.

Yang bikin gua ini istimewa, di dalamnya ditemukan sekitar 500 lukisan dan ukiran dari dua periode berbeda: 27.000 tahun lalu dan 19.000 tahun lalu, peninggalan manusia Paleolitikum zaman es.
Motifnya beragam, mulai dari bison, antelop, kambing gunung, anjing laut, burung auk, sampai kuda. Ada juga sekitar 200 desain geometris, plus satu ukiran unik berupa sosok setengah manusia setengah anjing laut.
Selain gambar hewan, ada juga “jejak tangan” manusia purba berupa stensil berwarna merah dan hitam. Menariknya, ibu jari di gambar-gambar ini selalu utuh, sementara jari lainnya kadang tampak hilang atau terpotong. Hasil analisis komputer bahkan menunjukkan mayoritas jejak tangan ini berasal dari perempuan.
2. Song Toyapakeh, Bali: Gua Bawah Air dengan Fosil Purba di Indonesia
Ternyata, fenomena serupa juga ada di Indonesia. Gua bawah air di Desa Toyapakeh, Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali, dulunya berada di atas permukaan laut. Manusia prasejarah dan hewan-hewan purba bisa keluar masuk gua ini sebelum akhirnya tenggelam seiring naiknya muka laut pasca zaman es.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat, situs ini menyimpan berbagai fosil hewan bertulang belakang. Ada fosil rahang bawah dan tulang belikat dari kerabat gajah purba (Proboscidea), fosil tulang sacrum kura-kura, sampai tulang paha dari famili rusa dan kijang (Cervidae).
Para peneliti menduga, dulu Nusa Penida punya peran penting sebagai jalur penyeberangan di kepulauan Wallacea sekaligus jembatan darat penghubung Bali dan Lombok, yang mendukung persebaran manusia prasejarah di Asia Tenggara. Bukti manusia purba pernah beraktivitas di sana juga diperkuat dengan temuan artefak tajam berbentuk mata panah atau tombak.
Peneliti dari Pusat Riset Arkeologi Lingkungan, Maritim, dan Budaya Berkelanjutan BRIN, Gendro Keling, berharap situs ini bisa dikembangkan lewat riset dan pelestarian agar makin menarik sebagai destinasi wisata bawah air bertema sejarah dan arkeologi.
“Dengan pengembangan berbasis riset dan pelestarian, situs ini diharapkan menjadi sarana wisata sekaligus edukasi publik, sambil melibatkan masyarakat lokal untuk menjaga keseimbangan antara pelestarian situs dan kesejahteraan warga sekitar,” ujarnya.
3. Sistem Gua Semenanjung Yucatan, Meksiko: Jebakan Maut di Pencarian Air Tawar
Sekitar 13.000 tahun lalu, menjelang akhir zaman es terakhir, gua-gua bawah tanah di Semenanjung Yucatan, Meksiko, masih berupa daratan. Penduduk prasejarah dan hewan-hewan pada masa itu biasa menyusuri lorong-lorong gua yang gelap dan licin demi mendapatkan air tawar, yang jadi sumber air utama mereka.
Sayangnya, pencarian air ini nggak selalu berjalan mulus. Banyak hewan (dan manusia) yang terjatuh ke lubang berbentuk lonceng raksasa, yang sekarang dikenal dengan nama Hoyo Negro alias “Lubang Hitam”. Lubang ini dalamnya sekitar 30 meter dengan lebar mencapai 60 meter.
Di sinilah para peneliti menemukan kerangka manusia purba, salah satunya milik Naia, remaja perempuan berusia 15-16 tahun dengan tinggi kurang dari 150 cm. Diperkirakan, Naia terjatuh ke area berair dangkal dan meninggal setelah menghantam batu. Kerangkanya ditemukan hampir utuh dan terawetkan dengan sangat baik berkat terendam air selama ribuan tahun.
Selain manusia, gua ini juga jadi “kuburan” bagi banyak hewan zaman Pleistosen yang sudah punah, seperti gomphothere (kerabat gajah purba), kucing bertaring pedang, sloth tanah raksasa, anjing purba, dan beruang purba. Ada juga kerangka hewan yang masih eksis sampai sekarang, seperti tapir, puma, dan kelelawar.
Gua Bawah Air, Saksi Bisu Perubahan Zaman
Dari Prancis, Bali, sampai Meksiko, gua-gua bawah air ini jadi bukti nyata betapa dramatisnya perubahan permukaan laut sejak zaman es berakhir. Tempat yang dulunya jalur hidup manusia dan hewan purba, kini berubah jadi situs arkeologi yang justru hanya bisa diakses lewat penyelaman.
Selain jadi objek riset ilmiah, situs-situs ini juga punya potensi besar sebagai destinasi wisata sejarah bawah air, asal pengelolaannya tetap mengutamakan pelestarian.


