Mobil listrik tanpa pengemudi atau kendaraan otonom mulai dikembangkan di Indonesia. Dosen Departemen Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Dr. Rudy Dikairono, S.T., M.T., bersama tim melihat peluang besar untuk menghadirkan teknologi kendaraan otonom yang lebih terjangkau dan dapat digunakan secara luas.
Gagasan tersebut berangkat dari perkembangan mobil listrik yang dinilai semakin relevan dengan kebutuhan transportasi masa depan. Selain lebih ramah lingkungan, kendaraan listrik juga memiliki biaya operasional dan perawatan yang relatif lebih rendah dibandingkan kendaraan konvensional.
Di sejumlah negara, teknologi mobil listrik tanpa pengemudi bahkan telah dikembangkan dan diuji untuk berbagai kebutuhan. Fitur kendaraan otonom juga mulai tersedia pada sejumlah mobil kelas atas, seperti Tesla dan BMW.
Namun, Rudy dan tim memilih pendekatan berbeda. Mereka mengembangkan sistem otonom pada salah satu mobil listrik yang telah beredar di Indonesia.
“Untuk mobil yang sudah memiliki ADAS (Advanced Driver Assistance System) seperti ini, kita lakukan pergantian sistemnya dengan kita matikan ADAS bawaan dari mobilnya,” jelas Rudy, dikutip dari laman ITS, Senin (3/8/2026).
Kembangkan Sistem Otonom yang Lebih Terjangkau
Menurut Rudy, kendaraan listrik memiliki keunggulan dari sisi integrasi sistem elektronik sehingga relatif lebih mudah dikembangkan menjadi kendaraan otonom.
Sistem yang dikembangkan tim ITS memungkinkan kendaraan beroperasi dalam dua mode, yakni manual dan otonom. Pengemudi tetap dapat mengendalikan kendaraan secara konvensional, sementara sistem otonom dapat diaktifkan ketika dibutuhkan.
“Kami ingin menghadirkan solusi otonom yang lebih inklusif dan terjangkau,” ungkap pakar robotika dan sistem cerdas ITS tersebut.
Teknologi yang dikembangkan menggunakan konsep modular dengan menambahkan sejumlah sensor untuk membantu kendaraan memahami kondisi lingkungan di sekitarnya. Salah satu teknologi utama yang digunakan adalah Light Detection and Ranging (LiDAR). Sensor berbasis laser tersebut berfungsi mengukur jarak serta membantu kendaraan mengenali objek di lingkungan sekitar.
Sistem tersebut kemudian dipadukan dengan Global Positioning System (GPS) atau peta digital untuk menentukan posisi dan arah perjalanan. “Sistem kami membuat mobil mampu mengenali lingkungan dan menentukan rute secara mandiri,” paparnya.
Mobil Bisa Menentukan Rute Secara Otomatis
Dengan kombinasi sensor dan sistem navigasi tersebut, kendaraan yang dikembangkan tim ITS tidak hanya mampu mengenali lingkungan, tetapi juga menentukan titik tujuan dan jalur perjalanan secara otomatis.
Sistem dapat menyesuaikan rute berdasarkan kondisi yang ditemui selama perjalanan. Kemampuan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam pengembangan kendaraan otonom yang dapat beroperasi secara adaptif.
Tim ITS juga telah melakukan pengujian kendaraan di lingkungan kampus dengan tetap mempertimbangkan regulasi yang berlaku di Indonesia. Dari hasil pengujian, kendaraan mampu mendeteksi sejumlah hambatan dan memberikan respons terhadap kondisi di sekitarnya.
“Kami terus meningkatkan aspek keamanan agar kendaraan semakin responsif terhadap kondisi jalan,” tutur Rudy yang juga menjabat Manajer Senior STP ICT dan Robotika ITS.
Targetkan Kemampuan Menyalip dan Atur Kecepatan
Pengembangan teknologi tersebut masih terus dilakukan. Ke depan, tim akan meningkatkan sejumlah kemampuan kendaraan, termasuk manuver menyalip dan penyesuaian kecepatan secara otomatis.
Peningkatan kemampuan tersebut diharapkan membuat sistem kendaraan otonom semakin adaptif ketika menghadapi kondisi lalu lintas yang lebih kompleks. Tak hanya untuk sektor transportasi, teknologi yang dikembangkan juga berpotensi diterapkan pada berbagai bidang lainnya.
Tim ITS berencana mengembangkan sistem serupa untuk kebutuhan pertanian dan industri, sehingga teknologi kendaraan otonom tidak hanya terbatas pada mobilitas manusia. “Kami terbuka untuk kolaborasi dengan industri agar inovasi ini bisa diimplementasikan lebih luas,” pungkas Rudy.
Pengembangan kendaraan listrik otonom tersebut menjadi salah satu langkah ITS dalam mendorong inovasi teknologi robotika dan sistem cerdas yang dapat menjawab kebutuhan industri sekaligus membuka peluang penerapan teknologi transportasi masa depan di Indonesia.










